Jumat, 30 Juli 2010

Dreams ...

Pasangan hidup itu bukan sekedar seseorang
Tapi dia akan menjadi tujuan hidup
Karena seluruh duniaku akan terfokus disana
Dia bukan orang sembarangan
Dia adalah orang pilihan
Pilihan hati ....
Karena hidup ini terlalu singkat Sayang,
kalau dijalani dengan orang yang tidak tepat
Lebih baik menunggu,
Daripada ......
Meraih sesuatu karena hasrat sesaat


Impianku adalah mendapatkannya, hanya saja saat ini rasanya sosok itu masih jauh dari jangkauanku. Bahkan dari bayang - bayangku .... Bagimana aku melukiskan sesuatu, jika seperti apa engkau, akupun tak tahu. Andai engkau memang begitu dekat, pasti aku kan merasakan satu denyut jantung di hatiku. Denyut dan getar yang kadang mengirimkan pesan, engkau ada disana sedang menantiku jua. My dreams .... come true ? harus, itu sudah harga mati buatku, jika aku ingin bahagia selamanya. Namun, apakah hidup itu semudah kita membalikan telapak tangan, semudah menunjuk sesuatu, dan dia akan menjadi miliku. Rasanya, tidak. Aku mungkin harus melewati semua halangan dan rintangan, aku mungkin harus merasakan semua rasa sakit, pedih, luka, kecewa hingga aku bisa menemukannya dan memilikinya. Dan apakah aku akan sampai pada tujuan hidupku ?. Tidak, jalan masih begitu panjang, dan saat ini yang terlihat hanyalah kegelapan. Aku tak mampu menembusnya untuk melihat ada apa dibalik kegelapan itu.

Aku dipaksa pulang ke rumah, meninggalkan setumpuk tugas di mejaku, tugas yang harus aku selesaikan, jika aku benar - benar ingin segera menyelesaikan kuliahku. Apa daya ........... dan saat ini aku ada dirumah, rumah yang dulu kurasakan penuh kasih sayang, sekarang berubah menjadi ajang perang mulut dan adu argumentasi. Rasanya, aku begitu lelah. Lelah dengan semua keinginan mereka yang seakan tak pernah mau tahu dengan keinginanku, harapan dan impianku. Yang kuinginkan bukanlah pangeran, namun satu sosok yang bisa membuat aku bergetar walau hanya di pandangnya.
"Ra .... " Ku palingkan wajahku, menatap satu sosok yang berdiri didepanku, tersenyum. Aku menatapnya, seakan disana kuingin temukan satu kesejukan dari bening tatap matanya. Mamaku .....
"Ra, kamu harus mengerti. Bahwa semua ini demi kebaikanmu, bukankah semua harus dilihat dari bibit, bobot dan bebet. Kami mengingankan yang terbaik buatmu."
"Please .... ma, Fara hanya ingin menjalani hidup yang Fara pilih sendiri. Dan bukankah jodoh itu ada ditangan Nya ?" Ku kemasi pakaianku, dengan sedikit tergesa aku meraih tas ransel didepanku. Rasanya aku tak akan membutuhkan banyak pakaian disana. Entahlah, saat ini aku hanya ingin pergi, mencari sesuatu yang kuharapkan aku mengerti.
"Kamu mau kemana ?? Fara .......... dengerin mama !!! Papamu tak akan suka dengan keputusan yang kau ambil."
"Fara hanya butuh waktu, butuh tempat untuk memikirkan semua yang papa dan mama sodorkan. Fara sudah besar ma, sudah bisa menentukan jalan hidup Fara sendiri termasuk dengan siapa kelak Fara menikah, menjalani hidup ini entah senang ataupun sedih." Ku raih tas ranselku, melangkah mendekati mama dan kupeluk sesaat, sedetik saja aku ingin merasakan pelukan hangatnya, seakan itu bisa menemaniku melewati hari - hari esok entah dimana tempatku berpijak. Kulangkahkan kakiku, kutatap setiap ruangan yang kulewati. Disini aku dibesarkan, dinaungi dan dilimpahi begitu banyak kasih sayang. Ada banyak kenangan yang tak mungkin aku lupakan. Aku tetaplah Putri Fara, kesayangan mama dan papaku.
"Ra ....." Aku mendengar suara berat, yang sangat aku kenal, papaku ....
"Kamu dengerin apa yang papa katakan, sekali dan itu hanya berlaku sekali. Terima perjodohan ini, atau ....." Ada jeda panjang yang tak kumengerti, aku diam mendengar ultimatum terakhir dari papaku.
"Atau .... kamu lepaskan semua fasilitas yang papa berikan padamu. Lanjutkan hidupmu, cari apa yang kau anggap baik tapi ... kami tak akan pernah peduli dengan mu lagi !" Nada suara itu, seakan tanpa emosi, tak ada kemarahan namun, aku begitu mengenalinya, memahaminya, bahwa kata - katanya seperti sabda sang raja yang tak akan ada yang berani membantahnya. Dan aku harus memilih, pilihanku tetaplah hidupku ....
"Maaf pa, Fara tetap pergi. Andai papa tahu, Fara sanggup menanggung derita apapun dalam hidup ini, kalau hidup itu pilihan Fara. Dan, Fara hanya butuh waktu untuk berfikir sejenak tentang semua hal yang papa dan Fara inginkan." Aku tak membutuhkan apapun, jadi aku serahkan kembali semua fasilitas yang pernah diberikan padaku. Kunci mobil, kartu kredit dan Atm aku serahkan kepada mamaku. Mungkin, satu - satunya harta yang kumiliki hanyalah hatiku. Aku melangkah melewati pintu utama, kutatap sekali lagi, seakan ingin kupatri dalam hati kenangan itu kan selamanya ada bersamaku.

Senja mulai bergulir, beranjak pergi meninggalkan terangnya siang. Matahari tenggelam diufuk barat. Entahlah .... mengapa aku memilih waktu yang kurasa sangat tidak tepat. Perjalananku masih panjang, dan malam akan segera menyelimuti hari. Aku tertunduk dihalte bus, suasana hiruk pikuk kota tak mampu meredam perutku yang terasa perih minta diisi. Ku buka tas ranselku, teringat Bi Nah tadi menyerahkan satu bungkusan padaku. Aku tersenyum lega, ketika ku buka bungkusan itu ku lihat kue kesukaanku "brownies". Bi Nah .... dia pembantu di rumahku, sudah bertahun - tahun ikut dengan keluargaku. Dia yang mengasuhku, dari aku memakai popok sampai aku bisa memakai jeans sendiri. Dia sayang padaku, tiap kali aku merasa sedih karena bertengkar dengan papaku, dia yang akan datang dan menghiburku. Memberiku keyakinan bahwa esok pasti akan seindah pelangi. Kulihat ada setitik air mata yang dia sembunyikan kala menatap kepergianku, aku memeluknya erat sambil berbisik ...
"Bi, Fara akan baik - baik saja. Janji, Fara pasti akan kembali ke rumah ini, menemani bibi membuat bibi repot dengan segala permintaan Fara. Yang pasti, Fara sayang sama bibi. Jadi jaga diri bibi baik-baik sampai Fara pulang" Kusambut pelukan hangatnya, tanpa kusadari air mataku mengalir membasahi pipiku. Dengan tergesa, kuhapus dan ku lukis senyuman di bibirku. Malam dingin tak lagi kurasa, aku merasa hangat, begitu nyaman dengan segala yang kupilih. Terlelap tanpa kusadari keberadaanku, dimana tubuhku bersandar.


Aku tahu ... hidup tak cukup dijalani dengan cinta. Karena tak ada orang yang kenyang karena makan cinta. Namun, sadarkah mereka..... bahwa materipun tak bisa menjamin seseorang bahagia. Bergelimangan harta, namun hati merasa hampa tanpa cinta, apakah kita bisa merasa bahagia. Harta hanya untuk kebahagian fana, dan cinta adalah kebahagiaan hati. Dan aku akan memilih kebahagiaan hati, harta bisa kucari, karena manusia akan tetap berusaha mempertahankan hidup, untuk melanjutkan hidupnya. Dan cinta akan menjadi semangatnya.

Kurasakan bus melaju kencang, aku tak tahu saat ini ada dimana. Yang kutahu, aku hanya mengikuti kata hati. Langkah kaki ini hanya berjalan berdasarkan insting semata. Dimana saat ini ? dan aku tersadar kala bus memasuki terminal Terboyo. Ups ! Semarang ??? tanyaku heran. Aku sampai pada daerah yang sangat asing bagiku. Aku tak tahu mesti kemana lagi, kuturuti kemanapun kaki ini ingin melangkah. Aku kembali naik angkutan umum, aku tak tahu kemana kendaraan ini akan membawaku. Aku hanya percaya kata hatiku.

Kota Semarang ..... kota Atlas, kota yang sangat dekat dengan pelabuhan. Namun, angkutan umum ini membawaku pada pemandangan asri yang sangat indah. Jalan berkelok - kelok, tiap saat angkutan umum ini musti berdecit keras karena belok di tikungan tajam, atau mengerem mendadak karena papasan dengan kendaraan lain. Dan akhirnya, aku sampai pada tempat yang aku inginkan "Gedong Songo". Ku tatap jalan berkelok menuju bukit, sepi .... tak kulihat satu orangpun ditempat ini. Aku melangkah, kutatap sekelilingku, terpana ..... kala kulihat keindahan alamnya. Sepanjang jalan ini, begitu banyak ditumbuhi bunga mawar. Merah, putih dan kuning berselang - seling tumbuh menghiasi jalan setapak. Wangi bunga tercium dibawa hembusan angin. Aku seperti terhipnotis, sejenak aku terdiam, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku, mempermainkan rambutku, dan melingkupiku dan wangi mawar gunung. Aku serasa putri yang tersesat dikebun bunga, ingin pergi dan beranjak namun kaki seperti terikat dengan keindahannya. Hingga langkahku terhenti tanpa kusadari. Ditempat ini, diantara keindahan alam, didalam keheningan aku bisa berfikir tentang segala hal yang aku inginkan. Tentang harapan dan keinginan kedua orang tuaku, andai bisa aku tak pernah ingin menyakitinya, tak ingin mengecewakannya. Dan aku merasa belum pernah sekalipun membahagiakan mereka, membalas kasih sayang yang telah mereka berikan padaku. Terkadang aku berfikir, mungkin dengan menuruti keinginan mereka hal itu akan bisa membuat mereka bahagia dan membalas sedikit dari semua hal yang telah mereka berikan padaku. Tapi bagaimana dengan hatiku ??? bukankah hidupku adalah tanggung jawabku, entah sedih, senang, bahagia ataupun duka aku ingin yang kujalani adalah pilihanku.

Disini .... aku akan mencoba bertahan hidup, dengan segala cara, yang penting semuanya masih dalam batas norma norma yang ada. Ehmm ... aku merasa puas, senang dan merasakan ada sesuatu yang tak kumengerti, tiba - tiba saja menyusup direlung hatiku. Ku lihat disana, diatas bukit yang ditumbuhi pohon pinus, ataupun dibawah sana, lembah yang tertutup kabut, membuat aku merasa begitu bahagia, aku ingin berteriak ataupun tertawa karena rasa ringan yang seakan membawaku terbang ke awan. Hawa dingin mulai menyergapku, membuat aku sedikit mengigil. Aku melangkah ke sebuah warung kecil, tempat ini seperti kawasan wisata, banyak sekali warung makan dan penginapan yang menawarkan tempat dengan harga terjangkau. Dan agak naik ke atas bukit dibawah pohon pinus ataupun ditanah lapang sana, kulihat begitu banyak tenda. Ini memang kawasan camping untuk anak - anak pelajar ataupun mahasiswa. Mereka diperbolehkan mendirikan tenda, jika dilengkapi dengan dokumen. Surat ijin dari sekolah atau perguruan tinggi ataupun surat keterangan dari RT atau Kepala Desa tempat tinggal mereka. Jadi, semua ada peraturannya, dan jelas identitas mereka. Aku duduk disebuah kursi, aku hanya ingin minuman hangat, seteguk teh hangat atau apapun yang terpenting bisa membuat rasa dingin itu menjauh dariku.
"Non, dari mana ?? mau camping ?" Tanya ibu si punya warung. Aku tersenyum.
"Ehmm enggak koq, saya dari jauh."
"Lha terus ngapain Non sampe sini ..."
"Panggil saya Fara, jangan pake non. Malu !" Bisikku sambil tertawa.
"Fara. Saya bu Mimi non, eh ... Fara." Aku tertawa, mendengar Bu Mimi kembali latah memanggilku non, entahlah aku jadi teringat dengan rumah. Mama, papa dan semua orang yang ada disana.
"Terus, disini kalo nggak camping, ngapain ? kamu rombongan sama temen temen kamu ya ?"
"Tidak bu, Fara sendirian. Hanya pengen menikmati alam. Bosen dengan hiruk pikuk kota, bising dan penuh polusi."
"Kalau disini sepi malahan non, setiap malam yang ada hanya suara jangkrik dan nyamuk. Terus mendirikan tenda dimana ?" Aku tertegun mendengar pertanyaan bu Mimi. Aduch ... baru dech inget entar malam mo tidur dimana ?. Aku menggeleng pelan.
"Loh ... koq, apa mau nginep dipenginapan ?" Lagi - lagi aku menggeleng, uang darimana ? pikirku. Seharian ini saja, perutku belum ku isi. Koq ... ! aku jadi laper ya ?
"Aduch, kenapa non ?"
"Masalah tidur, gampang dech bu. Kan ada banyak tempat disini. Kalo capek nggak mikir dimanapun pasti bisa bobo."
"E ...eeeee jangan, anak gadis koq tidur sembarangan. Yo wis, tidur dirumah ibu, mau kan ?" Achh .... ini yang namanya pucuk dicinta ulam pun tiba. Kusembunyikan senyum bahagiaku, takut bu Mimi memergokiku tersenyum senang mendengar tawarannya.
"Boleh bu ?" Tanyaku
"Jelas dong, sayang kalo gadis secantik non Fara tidur sembarangan" Duch ! jangan - jangan gue mo dijodohin ma anaknya nich ! hi..hi..hi gila ! koq ngelantur ya ....
"Makasih bu, nanti Fara bantuin diwarung dech !" Bu Mimi tersenyum mengiyakan. Ya Tuhan, ternyata disetiap kesusahan pasti akan ada jalan. Disetiap kesulitan pasti Kau kan berikan kemudahan. Disetiap cobaan pasti ada hikmah didalamnya. Sekarang, saatnya aku mengenal hidup sesungguhnya. Hidup tanpa bantuan Papa dan Mamaku, tanpa campur tangan mereka, tanpa fasilitas mereka. Merasakan nikmatnya sesuap nasi dari jerih payah sendiri. Walau tak kupungkiri, saat ini aku kangen dengan mereka.
"Fara, kamu harus melangkah, mendapatkan sesuatu itu tidak semudah mendapatkan mimpi. Meraih impian tak semudah menuliskannya dalam cerpen. Sesungguhnya, dimana ada kemauan pasti akan ada jalan." Yach ... maju terus pantang mundur. Harapku disudut sana ada satu sosok yang memang diciptakan untukku, yang kan menemaniku menjalani hari - hariku, memberiku satu kekuatan untuk terus melangkah, meraih impianku.

Tak terasa, sudah 3 hari aku berada disini. Terlelap dalam dekapan candi songo, dan aku sudah terbiasa dengan hawa gunung. Hawa dingin itu sudah mulai terbiasa aku rasakan, aku tidak lagi sering kedinginan seperti waktu pertama kali datang ditempat ini. Kalian tahu mengapa dinamakan Candi Songo (Gedong Songo), ehmm aku juga tidak begitu tahu namun, mungkin karena candinya berjumlah 9 (sembilan) dan seperti yang kulihat disini ada banyak bukit, dan disetiap bukit ada satu candi, letak antara bukit satu dengan lainnya tidak begitu jauh, namun menapakinya cukup membuat lelah kaki, karena kita mesti naik turun tebing. Namun ada pemandangan indah yang menemani disetiap langkah kaki, karena ada begitu banyak rumpun liar, ataupun rumpun mawar yang warna warni tumbuh disetiap pematang sawah, ada tumbuhan kubis dan wortel yang hijau bergoyang tertiup angin. Dan Ada jalan setapak yang menghubungkan antara satu candi dengan candi lainnya.

Senja mulai bergulir perlahan, aku merasa lelah setelah seharian membantu Ibu Mimi berjualan di warung, dan sekarang adalah waktu untuk diriku sendiri. Aku melangkah menuju bukit, aku ingin duduk diatas salah satu tebing itu, menikmati senja sambil melihat ke bawah lembah. Dari sana aku bisa melihat suasana kota Semarang, yang kalau malam cahaya di bawah lembah itu terlihat seperti bintang - bintang yang berpijar. Seperti bintang yang setiap malam berpedar diatas langit biru, menemani bulan menghiasi malam yang seakan mengirimkan pesan akan satu keindahan alam, keindahan satu jalinan seperti mereka. Bersanding diatas langit mayapada. Bintang .... andai ada satu sosok yang bisa membawakanku segengam bintang ditangannya, yang kan menemaniku dimalam sunyi, memberikan satu cahaya terindah dari setiap harapan, menjadi satu sinar petunjuk disetiap langkahku. Dia akan menjadi bintang terindah dihatiku, selamanya.

Ku langkahkan kakiku, menuruni tebing, mengikuti jalan setapak. Samar, aku mendengar suara gemericik air, suara itu begitu mengoda, membuatku bergegas melangkah dan mengikutinya. Teringat, kemarin aku menemukan satu sungai kecil yang agak tersembunyi, karena banyak ditumbuhi bunga Mawar dan ilalang. Airnya begitu jernih, hingga aku bisa melihat kedalamannya. Melihat begitu banyak batu - batu kecil yang menghiasi dasarnya. Ach .... aku tergoda, teringat dibalik rumpun ilalang itu tersembunyi air terjun kecil yang mengalir, gemericik airnya menetes dibebatuan dibawahnya. Ehmmm ... aku sudah jauh dari area perkemahan, dan suasana begitu sepi apalagi senja mulai turun. Tak ada salahnya jika aku ingin membasuh muka dan kakiku disana, atau mandi .... ehmm asyik dech!. Dingin ... ! Airnya terasa dingin dikakiku, dalam sekejap rasa dingin itu mengalir mengirimkan rasa sejuk keseluruh persendianku.



“ ……. Jika benar Cinta itu buta…. Butakan hatiku

Berkali terluka masih juga … ku menunggu

Hanya satu pintaku, ketulusan hati dan kesetiaanmu..

Jika itu…. Tiada..

Apalah artinya…

Penantian ini… hanya untuk Luka…..”



Yahh… cinta emang buta, sedemikian membutakan. Hingga kadang tanpa sadar kita ikut terseret ke dalamnya… terlena ke dalam permainan yang dinamakan CINTA. Bagai skenario drama satu babak. Sandiwara atau entah apalah namanya. Yang jelas.. gara-gara cinta, gue jadi nelangsa seperti sekarang ini. Tak salah kiranya kalo banyak para pujangga menamakan cinta itu adalah penyakit jiwa. Jiwa…? Yups, sebab cinta memang erat kaitannya dengan jiwa.. perasaan dan hati. Akibat cinta emang banyak terjadi kejadian memilukan atau membahagiakan di akhirnya. Ambil contoh Romeo and Juliet karya Shakespeare. Atau ambil juga kisah Rama dan Shinta dalam lakon Ramayana karya seorang empu di jaman Baheula dulu. Atau bahkan Kisah roman Siti Nurbaya karya Sutan Takdir Alisyahbana.Kadang bingung juga membayangkan kisah gue.. membahagiakankah.. atau malah memilukan. Namun yang pasti,akibat cinta jugalah yang membawa gue sekarang di tempat ini. Gedong Songo atau sering juga disebut Candi Songo… masih termasuk wilayah Semarang. Yahh…di sinilah gue sekarang.. sendirian.. sunyi.. hampa…dan merana..


Di tepi sungai yang mengalir jernih.. dihiasi tetumbuhan aneka warna.. sesekali terlihat ikan-ikan berloncatan gembira, seakan ingin menghibur hati gue yang galau. Udah seminggu gue di sini.. udah selama itu pula gue tinggalin semua aktivitas rutin gue. Yups….Gue adalah salah seorang Wakil Direktur di perusahaan Papa. Papa gue tercatat sebagai satu dari 10 orang terkaya versi salah satu majalah ternama. Kerajaan bisnis papa tersebar di mana2. Hongkong, Taiwan, USA, pokoknya multi nasional,dech. Tapi….sebagai anak tunggal yang bakal mewarisi dinasti kerajaan bisnis papa, gue ngerasa biasa… normal layaknya orang-orang yang lain. Sama sekali gak pernah terlintas di batin gue kalo gue itu beda dari orang kebanyakan. Malahan gue paling gak suka kalo gue dimanjain ama papa, mama dan adek sepupu gue yang lain. Gue lebih suka Low Profile. Karena bagi gue.. kebahagiaan hati adalah manakala kita diterima semua kalangan, manakala kita disambut teman, sahabat atau orang lain tanpa melihat status ataupun pangkat seseorang. Itulah hasil didikan papa yang hingga sekarang tetep gue pegang teguh.Papa mengajarkan bahwa kaya, miskin,susah, senang ..adalah termasuk ujian. Sebagaimana kita hidup ini juga merupakan ujian.Tinggal bagaimana kita memanfaatkan apa yang kita punya dan apa yang kita mampu demi kebaikan sesama. Ahh…. Gara-gara sifat Low Profiles gue juga kali ya.. dulu banyak temen cewek di kampus gue pada gak mau ama gue. Padahal kalo mau jujur,nih.. wajah gue juga lumayan tampan. Banyak yang bilang gue mirip ama si Thomas Djorghi. He..he..he… tapi itulah cewek jaman sekarang. Kebanyakan pada suka liatin tampilan luarnya alias seneng liat kulitnya saja, tanpa mau melihat kedalam hati seseorang. Padahal kalo mau jujur, gue paling benci kalo gue disuka gara-gara gue kaya. Sebenernya tanpa kekayaan orang tua gue.. gue juga udah mapan,kok. Dari hasil jerih payah gue sendiri. Tapi itulah.. sekali lagi gue gak suka memamerkan kekayaan ataupun asset yang gue punya.


Sambil menyendiri di keheningan senja, entah senja yang ke berapa kalinya gue ngabisin waktu merenung di sungai ini.. di balik sebongkah batu besar, ingatan gue mendadak melayang kala mengingat waktu kuliah dulu.Di kampus, gue seneng banget kuliah ama bawa sepeda Federal alias sepeda gunung, maksud gue buat sekalian olahraga, bahkan bisa dibilang gue sama sekali gak pernah bawa mobil sport gue. Gue takut disangka pamer,sih..Dandanan gue juga seringkali terkesan seadanya tapi tetep matching.Kaos oblong berpadu jins ama tas ransel setia menemani aktifitas sehari-hari.Seringkali gue juga pake celana jins robek di lutut. He..he…he.. Gue sempet naksir cewek sekampus. Cantik banget… andai mulut ini bisa menggambarkan bagaimana kecantikan si Neny.. pasti bakal gue lukiskan kayak apa kecantikannya, tapi mulut ini memang gak sesempurna ciptaan Sang Pencipta yang satu itu. Ibarat sang Cinderella, tapi kurang jelek… Ibarat Mulan Kwok ehm…. Tapi masih kurang cantik. Gak sanggup,dech.Hampir tiap hari ingin rasanya selalu berada di dekatnya,namun kala berdekatan dengan Neny.. pasti jantung ini berdegup kencang. Lidah terasa kelu tanpa sanggup ngeluarin sepatah katapun. Tuhan… rasa apakah ini..? Apakah yang melanda hamba-Mu ini… Inikah Cinta…? Ohh.. betapa besar pengaruh rasa ini padaku. Sejak saat itu.. mata terasa tak bisa memicing barang sedetikpun. Kala tertidurpun.. selalu ingat si Neny yang jelita. Saat bangun malah kaya orang linglung.Namun, sayangnya…Kala gue ungkapin perasaan ini…..

“Nen… boleh minta waktu elo sebentar kah….Gak sibukkan..?” Tanya gue suatu hari kala mata Kuliah Metalurgi dah kelar. Kebetulan pas mau jalan ke kantin gue papasan ama dia ama si Tety yang endut, sahabatnya.

“Ehmm.. kayaknya enggak,dech.. emang Dhewa mo ngomong apaan,sih..?” balasnya ramah.

“Ada,dech… kalo di kantin gimana, maukan…? Sekalian ama makan soalnya gue juga belum makan,nih...” Gue nawarin gitu ama ngeliatin si Tety endut. Tety cuman cengar-cengir ama mesem tanda setuju.

“ Ayuuk,..” Neny ngejawab sambil menggandeng tangan Tety.


Singkat kata, di kantin udah mulai sepi suasananya. Maklum, hari ini masih jam kuliah. Banyak yang masih di kelas. Hanya terlihat beberapa orang mahasiswa sedang bercengkrama, ada pula yang asyik ngerjain tugas, bahkan ada pula yang lagi asyik makan. Ehmm.. kesempatan, nih.. begitu bisik hati gue.Kebetulan si Neny juga udah selesai makannya. Tinggal si Tety endut yang masih asyik nikmatin porsi terakhirnya.

“Nen… gue pengen ngungkapin perasaan gue. Tapi sebelomnya maapin gue kalo entar apa yang gue sampaikan menyinggung perasaan elo.” Gue bertanya dengan nada hati-hati banget. Sementara Neny cuman ngeliatin gue ama pasang mimik menunggu. Sesaat suasana hening. Angin berembus sepoi-sepoi bagaikan ikut menanti apa gerangan yang bakal gue sampaikan ke Neny sang Bidadari.

“Gue sayang banget ama elo, Nen… en kayanya perasaan ini gak bisa ilang walo cuman sekejap. Gue bener-bener serius ama elo. En gue pengen elo jadi My Endless Love gue. Kalo sekiranya itu perlu waktu bagi elo buat berpikir… gak usah sekarang ngejawabnya.” Kata gue perlahan.. dengan harap-harap cemas.

“ Ehmm… kamu serius,nih.. Wa….?” Tanya Neny dengan raut kaget.

“ Yups… gue serius banget…. En gak ada yang bisa ngerubah keseriusan gue hari ini dan selamanya.” Gue ngejawab mantap.

“Ha..ha..ha…!!!! Dhewa.. Dhewa… Kamu tuh harusnya ngaca dong…!! Tau si Rendy yang kalo kuliah bawa BMW putih gak…? Dia yang kaya saja aku tolak apalagi kamu …? Kamu boro-boro mobil,Masa kuliah bawa sepeda Federal,sih…? Berarti kamu tuh miskin, kan..!! Iiihh… amit-amit dech kalo punya cowok kaya kamu. Lagian,nih… kalo aku minta anterin kemana-mana masa mau kamu bonceng di belakang,sih….? Ha….ha…ha…. ngaca dong…!! Yuuk ahh… Tet… kamu udah kan makannya…? Kita balik, dech…!!! Males banget lama-lama di sini.” Balas Neny sengit sambil menarik paksa lengan si Endut. Segera mereka bangkit dan pergi meninggalkan gue sendirian di kantin yang sepi.

Deg..!!Apa yang baru saja dikatakan Neny bagaikan suara halilintar di siang bolong. Suara itu begitu menggema di sudut hati gue yang paling dalam. Membekas dan meninggalkan rasa perih yang tak terkira. Bagaikan palu godam raksasa menghantam dada…telak..!! Dan meninggalkan kekecewaan yang luar biasa. Aaahh…. Neny..Neny… elo bener-bener gak tau ya kalo si Rendy itu sebenernya masih saudara gue. Elo gak paham juga ya kalo gue sebenernya lebih kaya dari Rendy..? Itulah permainan nasib, non. Andaikan gue mau,nih… seisi kampus ini bisa saja gue beli. Batin gue menjerit.. pilu.. tapi satu yang dapat gue ambil di hari itu. Ternyata bidadari gue gak lebih dari seorang cewek yang matre. Yang ngeliat seseorang dari penampilan luarnya saja. Gak lebih…


Udah sekian tahun peristiwa itu terjadi namun gue gak bisa ngilangin rasa perih… sakit dan nelangsa. Nasib orang emang gak ada yang tau. Gak ada yang bisa menerka walau sang dukun ahli sekalipun. Sesaat gue mengisap rokok gue dalem-dalem, seakan ingin menghapus kenangan pahit di masa lalu itu. Suasana temaram mengiringi datangnya sang senja yang kian menjelang. Pohon-pohon pinus di kiri kanan melambai-lambai tertiup angin, diselingi tetumbuhan mawar, melati dan ilalang campur baur menjadi satu menambah keindahan senja hari di sisi sungai ini. Gemericik air terjun terdengar menderu-deru, namun semuanya kontras bergabung menjadi satu bak melodi riang mengantar kedatangan malam yang segera datang menggantikan siang.


Aaah… Neny…. Neny.. sedang apa ya elo sekarang… Ingatan tentang Neny kembali muncul.. di sela-sela hembusan rokok Esse Lights yang gue hisap. Asap yang keluar membuat ingatan gue melayang kembali… Hari itu,sepulang kuliah, kebetulan gue harus langsung meluncur ke kantor karena saat itu ada meeting penting yang harus gue hadiri. Jadi gue kudu cepet nyampe di kantor. Gak nyangka… di kantor, abis ganti pake setelan jas ama dasi yang emang udah gue siapin di kantor.. gue malah ketemu ama Neny..di koridor ruang tunggu buat tamu. Kaget banget,dech.. !!

“Loh.. Nen… kok kamu ada di sini,sih…? Lagi ngapain,nih…? “ Tanya gue heran.

“Aku mau nyari Bapakku.. dia kan kerja di sini. Kalo kamu…?” Dia balas nanya dengan pandangan menyelidik. Belum sempat gue ngejawab pertanyaan dia, tau-tau Pak Sujadi anak buah gue di bagian perawatan muncul tergopoh-gopoh. Dengan mimik ketakutan seraya gemetar, dia berkata

“Maafkan kelakuan anak saya Pak Dhewa.. Dia ini mau saya ajakin belanja buat keperluan selamatan neneknya yang barusan meninggal. Kalo dia kurang sopan,saya mohon Pak Dhewa maklum karena dia masih muda,Pak.. Saya mohon maaf..”

“Gak papa kok Pak Jadi. Asal bapak tau, ya.. Neny ini temen sekampus saya, dan di kampus dia baik banget kok sama saya. Bapak gak usah kuatir,dech.. Nah silakan dilanjutkan saja. Saya mau meeting dulu. Bye….!!” Gue bilang kaya gitu seraya meninggalkan Pak Sujadi dengan Neny. Sempat gue ngelirik ke arah Neny yang pucat pasi akibat kejadian tempo hari. Hi..hi..hi… kalo inget hari itu di kantor.. jadi malu,dech. Tapi yang jelas bisik batin gue.. sama sekali tidak ada niatan untuk menyombongkan diri. Tidak ada niat gue untuk menjatuhkan Neny di depan ayahnya. Gue lega, dech…. Namun sayang.. sejak hari itu,Neny kayanya malah jadi berambisi ngedeketin gue. Aahh… sayang seribu sayang. Andai di kantin dulu tidak terucap kata-kata pedasmu hai bidadariku… pasti kan kutemani kau, pasti akan kujadikan dirimu sebagai permaisuriku. Respek gue raib dan musnah akibat kesalahan fatal. Yaah.. mulut emang ibarat pedang. Dan pedang itu telah mengiris hati sang Dhewa. Memporak-porandakan isi yang ada di dalamnya, sehingga yang tersisa hanyalah perasaan antipati. Yaahh… nasi udah jadi bubur.. Sampai kini gue makin berhati-hati di dalam membina suatu hubungan. Gue bener-bener gak mau kalo sampai salah pilih.


Sebatang rokok akhirnya perlahan mulai habis seiring lamunan yang mulai sirna. Yahh.. akhir-akhir ini gue jadi tambah sering melamun. Entah lamunan tentang sang Putri Impian yang hingga kini belum jua gue temukan, atau lamunan tentang pekerjaan yang makin hari kian menumpuk. Tak jarang keduanya berpadu kontras menghasilkan elegi kebimbangan dan keraguan di batin gue. Hmm… kembali gue dihadapkan pada relita.. bahwa hidup harus terus berjalan, bagai putaran roda kincir raksasa. Kadang suka kadang sedih, kadang merana dan kadang pula indah. Yahh… di sinilah gue sekarang, dikelilingi musik alam dan ditemani sang waktu. Sejenak gue palingkan pandangan ke sekeliling. Di depan terhampar sungai yang jernih dan berair sejuk. Di kiri kanannya dihiasi bebatuan aneka ukuran menambah keindahannya. Samar-samar terlihat cahaya senja menerobos menembus dedaunan yang gemulai. Kala gue palingkan pandang ke sisi lain.. nampak seekor landak mencari makan, dibalik bebatuan besar… dan perlahan bergerak ke arah gue. Kala gue memandang ke kanan ke arah jalan setapak.. lamat-lamat nampak sesosok tubuh berjalan sendirian. Siapa gerangan yang muncul itu… bisik batin gue penasaran. Segera gue bersembunyi di balik batu besar di sisi kiri gue. Aah… ternyata sosok wanita yang muncul. Usianya menurut tafsiran gue masih berkisar 24 tahunan. Cantik, sih.. cuman sayang.. nampak kegalauan di sana. Ada kesedihan yang tergambar jelas di wajah ayunya. Namun… tanpa gue sadari, ada suatu pesona Inner Beauty yang gue sendiri gak tau. Bagaikan magnet menarik besi dan akhirnya besi itu tunduk pada kemauan sang magnet. Sesaat gue terpesona.. pesona alami yang dimilikinya.. entah apa itu namanya. Dia berjalan tanpa sadar bahwa ada sesosok pria sedang mengamatinya di balik batu besar. Yahh.. gue gak mau mengganggu lamunannya.Gue gak mau keasyikannya memikirkan sesuatu jadi hilang gara-gara gue.


Sesaat si wanita itu, menuju tepian sungai sambil membilas wajahnya. Kemudian merendam kakinya yang putih bersih. Nampak rasa lega terlihat di wajahnya. Perlahan-lahan gue segera beringsut seraya menggeser pantat gue. Namun tiba-tiba terasa panas yang menyengat bak sengatan bisa ribuan hewan di belakang gue. Bagaikan ribuan duri yang mencengkeram dan menghantam kulit. Spontan gue menoleh dan ternyata landak yang tadi gue liat asyik mencari makan udah gue dudukin saking asyiknya ngintipin si cantik tadi… Adduuhh.. gue ngedudukin duri-duri landak….!!!

Tanpa sadar gue segera berlari kencang ke arah sungai sambil berteriak nyaring banget…

“Addaaaaaaooowwww………puannnaaaassss….!!!!” Begitu bunyi teriakan gue membahana dikeheningan senja di tepi sungai. Dan… Byurrr…..!!! Cipratan air sungai bermuncratan ke segala arah akibat terjangan gue. Si wanita tadi jelas terbengong-bengong kaget en surprise bin keki banget. Abis gimana enggak…lagi enak-enak menyendiri tau-tau ada cowok lari sambil teriak kenceng en terjun ke air sungai…..


Ups !!! aku tersentak kaget, ketika kudengar suara teriakan orang yang membahana mengusik kesunyian alam. Dan suara kecipak air itu menandakan ada sesuatu disana. Ku turuti kata hati, entahlah ..... dengan tergesa aku berlari kearah suara itu dan .... kulihat satu sosok manusia didalam air. Ada kecemasan yang tak kumengerti melanda hatiku, "Aku harus menolongnya" bisiku. Tapi ...... ach, ku biarkan hati bicara, walau aku tak tahu, dia membutuhkan pertolonganku atau tidak, yang terpenting niatku baik terhadapnya. Ku ulurkan tanganku, berharap dia bisa meraihnya dan membantunya naik. Namun, jarak masih begitu lebar, akhirnya ku mencoba naik ke atas batu yang agak lebih besar, kuulurkan kembali tanganku, jemari kami bertautan tapi ..... aku lupa, batu tempatku berpijak sangat licin, hingga aku tak bisa menjaga keseimbangan tubuhku. Bukan dia yang ikut naik, namun tubuh mungilku yang terseret ikut terjatuh bersamanya. Awwww ... aku menjerit lirih. Ku rasakan dinginnya air mulai merambat ketubuhku, bajuku basah. T - shirt dan celana jeans ku terasa melekat erat ditubuh. Ach ..... ternyata sungai ini dalamnya hanya sebatas dada orang dewasa, kaki ku masih bisa menginjak batu - batu dibawahnya. Dan tawaku pun tak mampu kutahan, ketika menyadari dia tak mungkin tenggelam dan .... rasanya nggak mungkin sosok se atletis ini bisa tenggelam begitu saja, dia pasti bisa berenang.

"Ha... ha..ha !" Rasanya begitu nyaman, basah dan kedinginan. Namun .... dia ??? aku tersipu kala tersadar aku tak sendirian disini, namun ada satu sosok asing yang tertawa lepas dan menggoda disampingku. Dia .....

Gue sontak kaget ..... Aahh ... si wanita ... wajah mungilmu nampak lebih cantik diterpa air sungai, rambutmu berkilauan diterpa cahaya sang senja

"Hai, ikutan nyebur juga ya .... ?" Tanya gue menggoda.

Mendengar pertanyaannya, aku hanya bisa tertawa. Nggak tahu musti menjawab gimana, soalnya aku sudah ada didalam air, basah kuyup dan .... ehmm bahagia ? entahlah .... rasanya sudah begitu lama aku tidak tertawa begitu lepas, seperti saat ini.
"Hai juga, maaf nie maksud hati mo nolongin kamu. Apa daya .... aku malah ikutan jatuh ke sungai" Ku tatap wajah didepanku, dia satu sosok yang tak ku kenal. Menatapku dengan tatapan penuh tawa.

"Nolongin gue ? ha .. ha ... ha ! bukannya elo sengaja nguber gue masuk sungai, nih...?" tanya gue asal.. lama2 gue jadi kege eran juga, nih.. di tengah rimba yang sepi, saat sang senja turun ditemanin cewek maniss lagi..hi..hi..hi...
"Iiiiih asal dech.... ngapain juga aku nguber kamu. kenal juga enggak ...."
"Oooowwhhh... lom kenal ama gue, ya...? he..he..he.. "
"Boleh gue minta kenalan, nih...? pasti boleh.." Gue ngejawab sambil tertawa.
"Gue Dhewa.... kalo nama elo...?
"Fara ..."
"Fara ? Fara siapa...? Faradilla,.. Fara Ashari ato Fara aja gitu...?" lagi-lagi gue iseng nanya... Ehmm cowok satu ini, bener - bener reseh dech ! ampunnnn .... pede abisss. Aku sedikit jengkel habiss ... jujur, aku jadi bingung and kualahan menjawab pertanyaan dia.
"Fara .... tanpa embel - embel siapa or aja githu" jawab aku sekenanya
"Ehmm... oke, dech... gue boleh manggil elo or aja gitu....? kan nama elo Fara tanpa embel-embel siapa or apa aja gitu..?" Lagi-lagi keisengan gue kambuh lagee.. Abis si cewek eh.. Fara kayanya enak banget diajak becandaan.
Aku tertawa, bener - bener iseng banget nich cowok ! tapi nggak mungkin dong, aku tetap ditengah sungai, berbasah - basah ria sambil kenalan ma cowok super pede ini. Kulangkahkan kakiku, aku harus naik ke tepi sungai. Rasanya tubuhku mulai mengigil kedinginan. Dan senja mulai temaram, angin bertiup perlahan, membuat seluruh persendianku bertambah gemetar. Ku raih sweater kesayanganku, untunglah ... sebelum aku membasuh muka telah kulepas dan kutaruh disebuah batu jadi, aku masih punya satu pelindung yang bisa menghangatkan tubuhku.

to be continue ...

Rabu, 07 Juli 2010

Ilalang

Ilalang …

Ku jemput mentari pagi ...
Kala pagi belum lagi mengeliat manja
Butir butir surga menetes di dedaunan mayapada
Angin berdesir lirih ...
Menebar dingin menyapu tubuh rubuh dipadang tak bernama

Geliatku tak mampu mengusir dingin ...
Rintihku menjamah bumi tak berarah ...
Luka serasa bernanah tanpa rasa
Perih mengiris mengirim seribu derai air mata
Dan Padang Ilalang ... tetap saja mengikat ku dalam dilema

Bawa aku ... bawa aku ...
Tatap aku ... dan lihat !!!
Kerumunan hijau menjulang tanpa warna
Mendulang impian dibatas cakrawala
Tak kau lihatkah ???
Tarianku menari diantara senandung hati
Memanggilmu dan menyebut namamu bagai do'a menuju nirwana

Tubuh serasa dirajam rejam
Hati terasa berkeping menjadi serpihan
Tak ingin lagi ku penuhi benak dengan harapan
Bila Rintihanku tak jua kau dengar

Habis gelap terbitlah terang
Tetaplah ada dibatas padang Ilalang ...

Sunyi

Temani aku sunyi ...
Kala badai hati menguncang nurani
Menghancur lembur dan menguraiku dalam serpihan kecil
Aku retak, meretas stiap mimpi terpaku mati

Temani aku sunyi ...
Kala bulir bulir ragu merengkuh dahaga berpuncak nestapa
Kecewa mendera dan memasungku dalam puasa kata tak bernyawa
Mengalirkan bulir perih mengaliri darah membungkus busuk jiwa dalam diamnya

Sunyi ... peluk aku dalam kembaramu
Dekap aku dalam terpaan pilu
Hangatkan aku dalam sunyimu
Diamkan aku dalam ramainya bisikanmu

Temani aku sunyi ...
Menapak sang dewi malam bergelut dalam diam
Biar berlalu kobaran gairah palsu walo lantang ucap janji shidup dgnku
Dan diamku bawa aku dalam damai bersamamu

Jumat, 23 April 2010

Nuansa Cinta

Ada berjuta impian wewarnai ...
Terajut diantara mimpi - mimpi
Walau hanya sekedar Nuansa cinta
Disana tersimpan satu rasa
Satu hati ...
Dengan seribu mimpi


Pagi .... !!! telat lagi nich, jam sudah menunjukkan pukul 07:05 WIB. Alamat gue pasti kena omel dari Si monster cantik itu, hai ! kenalkan gue Fira, hemm hari ini deadline untuk artikel bulan depan, dan pagi ini harus sudah masuk dan berada dimeja Bu Linda. Ampunnn, nggak tahu nich ! mandi pake acara ngantri segala. Biasa anak kost, oh ya gue gadis 22 tahun, kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Ilmu Komunikasi semester 6. Gue sudah bekerja di sebuah Majalah, yach .... kebetulan aja koq. Karena hidup gue memang selalu penuh dengan kebetulan. Kebetulan yang indah tentunya.
“Cepetan gih, gue dah telat nie !!!” Gue gedor – gedor pintu kamar mandi, pasti nich si pesolek cantik Aulina yang mandi pastinya berjam – jam. Suka banget nie anak, mandi berendam macam ala spa.
“Ina .... please cepetan dong !!!!”
“Yo .. yoyoyo ..... salah elo sendiri sich, tidur pake acara molor segala.” Aulina keluar dengan cemberut, gue lihat masih ada sisa sambun di tengkuknya. Bau harum seketika menyebar diseluruh ruangan.
“Hi .. hi...hi... sorry babe, ehmm elo ngaca gih ... bentaran aja, tyus ... mandi lagi.” Gue nyelonong masuk kamar mandi, Aulina yang terbengong – bengong mendengar ucapanku. Yach ..... mandi gue pagi ini ala burung dech, abisnya nyebur trus udahan ... taux juga gimana nanti kalo dicium orang. Hi...hi...hi.... cium ?? ampunnnn sejak kapan nie, gue jadi cewek reseh .... mungkin sejak gue bisa menghapus masa lalu gue, sejak kunikmati hidup dengan apa adanya. Walau, saat ini gue musti banting tulang cari uang buat bayar uang semesteran atau uang jajan. Abissnya.... ngandelin dari kiriman ortu mana cukup sie.

Dengan setengah berlari, gue menuju depan gang mencari angkutan umum. Gue udah telat hampir satu jam nie. Aduch ... mana juga nie angkot nya.
“Bang ... bang .... bang, stop ... stop !” akhirnya dapet juga nie angkot. Tapi ....
“Bentar .. bentar bang, tunggu ...!!” perasaan gue koq nggak enak nie, ada sesuatu yang ketinggalan ... ups !!! Flashdisk gue ... ampunnn padahal semua data – data yang mau gue serahin ke Monster cantik ada di dalam situ.
“Aduch ... maaf dech, nggak jadi bang !!” Seketika gue lari, balik lagi ke kost. Ach ... alamat nggak cuma omelan aja nich yang kena di gue. Sial ... ampunnn !!!


Gue berlari bagai orang kesetanan, nggak lihat depan, belakang, samping kiri, kanan, yang ada dibenak gue hanyalah cepet – cepet masuk ke dalam kantor menemui si monster cantik itu. Tiba – tiba ...
“Braaakkkk !” jatuh semua map – map yang sedari tadi gue pegang, gue sempat terkejut saat tanpa sengaja menabrak satu sosok di depan gue.
“Upss !! sorry ... sorry mas” kataku tanpa melihat sosok itu, gue berusaha mengambil map – map yang jatuh berserakan dilantai dengan dibantu dia. Saat tangan kami bersentuhan tanpa sengaja, terus terang gue kaget bukan kepalang. Dan ....
“Andre ..... ?” Cowok itu hanya tersenyum, menatapku dengan heran.
“Hai ...! pa kabar cantik ?” tanyanya basa – basi.
“Baik, ehmm ... sorry yach ...! bye ...” Gue berlalu dari hadapannya. Entahlah, tiba – tiba saja ada perasaan gelisah yang melingkupiku. Ach ... masa lalu ! bisik gue kelu. Gue harap, dan sangat berharap .... dia tak lagi mengusikku. Tak lagi mengangguku dengan impian – impian semu.
“Ra, sepertinya apa yang elo tulis untuk edisi bulan depan ini ehmm ... kurang menarik. Coba dech, elo tambahin dengan gambar 2 atau foto – foto yang menunjang untuk artikel elo .... so, gue tunggu revisinya 2 hari lagi.” Mbak Shinta menyerahkan kembali flashdisk gue. Ach .... !!! gue harus cari refferensi lagi nie, dan harus kembali ke butik itu dan meminta ijin untuk mengambil beberapa gambar yang gue butuhin. Padahal, gue punya tugas seabrek yang musti gue selesain. Makalah untuk mata kuliah jurnalistik foto dan grafis besok sudah harus dikumpulin. Ach ... mending kalo cuma di simpan dalam CD atau Flashdisk, gue nggak bakalan repot – repot cetak dan menggandakannya serta menjilidnya. Gue bener – bener nggak punya waktu untuk hal – hal itu. Dan .... ach ! mendingan gue cabut ke Gramedia mencari bahan refensi buat artikel gue, dan siapa tahu gue dapet juga bahan buat makalah gue.

Hari ini gue bener – bener sibuk, lari kesana kemari tanpa ada waktu buat sekedar bernafas. Ach ... bisa – bisa gue tua ditengah jalan tanpa gue sadari lagi. Hi...hi...hi... apa nggak heboh tuch ? temen – temen satu kost gue bakalan pingsan. Ha..ha...ha.., Fira si centil pulang – pulang berubah jadi nenek – nenek. Ehmmm ... hidup gue, inilah hidup yang musti gue jalanin. Tak ada waktu buat mikirin sesuatu hal yang remeh, hal yang bagi gue hanyalah kosong belaka, dan tanpa manfaat. Tapi bukan berarti gue tuch cewek serius lohh, terkadang gue hang out sama temen – temen sekedar cari hiburan, ngilangin stress ataupun sekedar JJS (jalan – jalan sehat) sehat dalam artian bisa cuci mata, bikin ketawa dan menghilangkan satu atau dua jerawat di pipi alias happy. I'm single and very happy ....
“Sore Non, ....? ganggu nggak nie ?” Ups ! ach makhluk ini lagi, males banget gue ketemu dia. Hanya mengusik sesuatu yang telah gue pendam dalam – dalam dihati. Hanya membuat gue ingat dengan sesuatu yang dulu sangat sulit buat gue lupain.
“Hai ... sore juga nie, duduk dech !” terpaksa juga gue persilahan dia duduk. Senyum itu masih menawan, tatap mata itu masih saja sama dengan tatap mata yang dulu selalu gue rindukan. Achhh ... tiba – tiba hati gue berdenyut kencang, tanpa bisa gue cegah getaran itu kembali muncul di hati. Gila !!! bagaimana ini, benteng yang telah gue buat berbulan – bulan lamanya hancur dan musnah hanya dengan melihat senyum dibibirnya. Gue ... Tuhan, please .... jangan biarkan dia hadir kembali dalam hari – hari gue. Tak ingin, dia hadir dan menorehkan luka, tak ingin dia menghancurkan hati gue, yang dulu pernah berkeping karenanya. Hati ini sudah retak, karena hati ini hanya berupa kepingan yang gue tata kembali, agar bisa utuh. Namun, dia tidak bisa kembali utuh seperti semula, dia bisa berdiri tegak dengan dibantu banyaknya lem kekuatan yang kupakai tuk menyatukannya kembali. Hati ini sudah retak, dan gue tak ingin dia .... menghancurkannya menjadi serpihan yang tak bisa kutata lagi.
“Pa kabar ? masih sibuk kuliah ? ehmm sekarang kamu kerja di sana ?” tak sanggup gue menatapnya, tak ingin dia melihat masih ada bayangannya di mataku.
“Baik, yups.... masih tetap kuliah dan ya gue emang kerja disana. Buat hidup gue, napa ? ada yang salah ?” Andre tertawa lepas ....
“Gue minta maaf, buat kesalahan gue yang dulu Ra. Beneran ... gue nggak sengaja melakukannya?”
“Maaf ? buat apa ? masa lalu yang mana ? jangan ngaco dech !”
“Elo masih marah ?”
“Re, kalo gue marah, elo sekarang nggak mungkin ada didepan gue, tersenyum manis dan bisa seenaknya saja bilang maaf!” stop ... slow down, jangan emosi Ra,tunjukkin bahwa dia dulu atau sekarang tak memiliki arti apapun buat elo, bisik hati gue pelan.
“Ehmm ... ternyata sampai sekarang elo nggak berubah. Masih sama seperti dulu, emosi elo masih suka meledak – ledak, dan tak terkontrol” Hah !!! seenaknya aja dia menilai gue, emang siapa elo ? pengen rasanya kata itu yang mucul dari mulut gue namun ...
“Sorry, elo salah .... Fira yang didepan elo ini, nggak sama dengan Fira yang dulu elo kenal. Jadi ... terserah elo mo bilang apa. Key ... gue nggak mau berantem sama elo, untuk masalah yang nggak ada jluntrungannya. Bye ...!” secepat kilat, gue pengen berlalu dari hadapannya. Tak ingin, berlama – lama disana, mendebatkan sesuatu yang telah gue lupain, dulu ... sekarang mau nggak mau kepedihan itu kembali menguasaiku. Dulu, dia adalah seseorang yang selalu hadir dalam mimpi – mimpi gue, dan itu bukan keinginan gue .... gue juga nggak tahu mengapa musti dia yang hadir disana. Memberi harapan dan impian indah yang hanya semu belaka. Atau mungkin, dulu gue adalah gadis yang naif, yang selalu percaya dengan hal – hal yang sebenarnya nggak bisa dipercaya. Gue tak lagi percaya dengan cinta, apalagi satu makhluk yang namanya cowok. Gue nggak mau lagi memiliki hubungan apapun dengan makhluk itu, hubungan apapun atau jalinan apapun tapi ehmm ... kalau hanya sekedar berteman, masih bisa gue tolerir. Gue wellcome aja sama semua orang, nggak pernah gue bedain antara satu dengan yang lain. Asalkan ... hanya sebatas itu.

Minggu – minggu terakhir ini, benar – benar membuat gue jengkel. Andre selalu saja ada dimanapun gue berada. Sepertinya, dia menjadi paparazi. Suka nguntitin orang, nyelidiki kegiatan setiap orang yang menjadi targetnya. Gue bener – bener nggak nyaman, nggak suka dengan kenyataan yang tak bisa gue pungkiri. Rasa yang dulu pernah ada, yang sempat gue pendam, yang hampir saja menghilang tanpa bekas. Kini hadir lagi, muncul kembali mewarnai hari – hariku. Gue nggak tahu, mengapa dia selalu saja melakukan hal itu. Seakan – akan dia memang sengaja ingin menghancurkanku. Ketika gue menjauh, dia akan datang menarikku kembali dalam jerat pesonanya. Namun ketika gue mendekat, dengan seenaknya dia berlari, bersembunyi dalam kedok yang tak bisa kupahami. Dia .... membuat hidup gue menjadi seperti tali, yang bisa dia tarik ulur seenaknya saja. Dan tekadku untuk melupakannya tidak akan sampai pada batasnya.
“Fira ... Raaaaaaa !!! dicari tuch !” gue dengar Aulina berteriak di depan pintu kamar. Ach ... gue nggak mau diganggu, so..... gue tarik lagi selimut dan gue bersembunyi dibawahnya. Ehmmm .... nyaman, tapi nggak senyaman kala gue dengar lagi teriakan Aulina, mirip Tarzan aja ... emang nie dihutan ?
“Ra ... please dech bangun dong !!! Putri Tidurrrrrrrr ..... bangun – bangun !!!! ada yang nyariin tuch ! tukang nagih utang kaleeee. Raaaaaaa ...... !!! bumb ... bumb ... gedhebuk !!” achh suara apaan sie.
“Ya .. ya..ya !!! Naaaa .... please tunggu bentar nie !” dengan sedikit mengantuk gue buka juga tuch pintu. Seraut wajah cantik muncul dihadapanku eittt .... ampunnn apanya yang cantik, wajah penuh masker mentimun hiiiiii .... menakutkan lagi !
“UUUhhhhh ... masih pagi nie, lagian hari Minggu ini ...”
“Pagi ... pagi !! sayanggggggg, lihat tuch matahari udah sampai diubun – ubun elo bilang pagi ?”
“Biarin lagi ... iiihhh habisnya dikamar dingin banget sie.”
“Awas ya gue bilangin Ibu kost lohh, pake AC nggak bilang – bilang. Untung aja tegangan listriknya nggak down tadi malem.”
“Jangan dong, please dech! Sapa sich yang nyari gue pagi – pagi gini ?”
“Siang Ra, dah siang nie ... ehmm Andre tuch !”
“HAAHHH !!! Andre ? ngapain dia kesini ?”
“Taux ... emang sejak kapan nie elo jalan ma dia ?”
“Jalan ??? RESEH lo ...” gue bergegas kedepan, dan memang disana gue lihat sosok yang benar – benar pengen gue hindari seumur hidup itu. Duduk dengan santai diruang tamu, dan tersenyum melihatku.
“Ra ? baru bangun ? iiihhh ... cantik – cantik kalo tidur ngiler juga tuch !” Ups ! seketika gue usap sudut bibir gue. Ampunnn ... masa’ gue ngiler sich.
“Yeee... sapa yang ngiler sie. Pasti elonya tuch yang ngiler lihat cewek cantik baru bangun tidur !” bales gue rada sewot, bukannya marah dia malah ketawa ... bete ! reseh !
“Yuhhhuuuiii ... abisnya elo tuch emang bener – bener cantik dech kalo bangun tidur. Walau tanpa make up, elo tetep cantik koq !”
“Udah dech, ada apaan nie ? tumben nyamperin kesini ?”
“Jalan yuuk !! gue kangen nie ma elo ??” Kangen ? ampunnn ... bener – bener nie cowok, nggak ngerasa juga kalo dihindari macam penyakit menular. Syok juga sie denger omongan dia. Selalu dan selalu, hati ini nggak bisa diatur. Berbunyi berdentam tanpa ku sadari, membuat gue sakit karena menahan emosi.
“Nggak bisa dech Re, gue sibuk banget !” gue berusaha menolak, beneran nie gue nggak mau menjalin hubungan apapun dengannya.
“Napa ? sibuk ? he..he...he... jangan bo’ongin gue. Masa’ sibuk ... jam segini masih molor sie ?” yach ... kena dech, gue lihat penampilan gue memang macam nenek lampir, rambut acak – acakan dengan baby doll yang masih melekat ditubuh gue.
“Oke dech, gue nyerah ... tunggu bentar, gue mandi dulu !” iiihh ... bete, ngapain juga gue musti nurutin keinginan dia. Tapi, ya napa enggak ? walau dengan begitu, hati gue taruhannya. Jalan dengan Andre, hanya membawa gue ke masa lalu.

Entah mengapa kenangan itu silih berganti mengisi kembali memori gue. Kenangan yang selama 6 bulan ini berusaha gue buang dan gue bakar. Hanya sayangnya bukan kenangan itu yang menghilang namun hati gue yang kebakar habis. Habis tanpa sisa, yang ada hanyalah air mata. Andre .... apa sie yang nggak menarik dari dia ? cowok super seksi yang selalu menjadi incaran wanita. Dia tidak hanya populer di kampus saat itu, tapi dia si genius yang suka mengundang tawa. Tawa dan senyumnya yang membuat para cewek mabuk kepayang. Dan mungkin, gue adalah salah satu diantaranya. Achhhh .... gue males mengingat semua itu, mengingat semua hal yang hanya bisa membuat gue merasa perih dan hancur.
“Ra, sekarang jalan sapa siapa nich ? dah dapet cowok baru ?” gue berlagak nggak peduli dengan pertanyaannya. Rasanya nggak perlu gue jawab dech, buat apa ? nggak ada artinya juga buat dia.
“Ehmmm ... ada dech, mang napa sich ? nanya – nanya segala ?”
“Yeee, jangan sewot dong ! cuman nanya lagee ...”
“Yach ... makanya nanyanya jangan macem – macem dech. Udah tahu gue tuch kalo sama elo bawaannya sewottt ...!!”
“Ha...ha...ha.... ampun, cantik – cantik judes banget sie !”
“Sekali – kali dong, gue dikasih senyum manis elo ... “ Gue nyengir, memonyongkan bibirku sedemikian rupa untuk mengejeknya.
“Ha...ha..ha.... ampunnnn, bibir elo seksi juga tuch !!” Jawab Andre tanpa basa basi.
“Elo tuch, nggak bisa dikasih senyum manis. Mendingan gue jitak aja .... baru sip tuch!”
“Ha ....ha..ha.... elo tahu, itu yang paling bikin gue kangen ma elo. Elo tuch, cewek paling suka ceplas ceplos seenak bibir elo sendiri. Terkadang nggak peduli, hal itu bisa nyakitin orang lain apa enggak. Buat elo kejujuran yang paling utama.” Gue tertegun, ku tatap dia. Dan gue lihat, disana ada banyak pelangi yang menghiasi warna matanya. Achh .... reseh, jantungku berdetak bertambah kencang, irama hatiku kembali bernyanyi tanpa bisa ku tahan. Perih terasa menyiksa kala hati ini tak mampu kudiamkan, untuk menghentikan nyanyian cinta yang dulu sempat hilang.
“Ra, gue nggak bisa lepas dari elo. Please .... kasih gue kesempatan kedua, buat menjalani hari – hari bersama elo. Ini kejujuran paling jujur yang bisa gue berikan ke elo !” Gue tersentak kaget, tak percaya mendengar ungkapan itu keluar dari mulut manisnya.
“Re, sorry .... gue nggak bisa. Nggak ada jalan kembali buat elo, nggak ada hati yang bisa gue sisakan buat elo. Jadi please .... jangan katakan apapun, jangan ungkit hal itu kembali. Gue sudah menutup lembaran itu rapat – rapat.”
“Ra ... gue serius Ra. Nggak ada yang lain yang gue inginkan didunia ini selain elo. Gue kembali ke kota ini hanya demi elo. Gue mencari elo, ke semua tempat yang pernah elo tinggalin. Dan suatu kebetulan hari itu, gue ketemu elo di kantor majalah itu.”
“Stop, please ..... gue harus pergi !” Gue berlalu, dengan setengah berlari gue mencari taxi yang sering mangkal di depan Resto itu. Tak kudengarkan teriakan panggilan dari Andre, gue nggak peduli. Nggak peduli dengan semua hal yang dia tawarkan, nggak peduli dengan janji indah melukis hari bersama. GUE NGGAK MAU PEDULI. Semua hanya omong kosong belaka. Entahlah ... rasa perih ini semakin mengiris nurani, membuat gue kembali terpuruk seperti 6 bulan yang lalu. Apalagi yang gue miliki ? tak ada apapun, tak ada secuilpun harapan yang ingin gue bangun kembali bersamanya apalagi diatas puing – puing hati gue yang pernah dihancurkannya. Air mata bergulir, menetes membasahi T – shirt yang gue kenakan. Andai bisa ingin rasanya gue berteriak menjeritkan segala kepedihan yang mengisi rongga dada ini. Sesak .... sakit ... perih ... tak tahukah dia ? bahwa gue bukan tempat persinggahan yang bisa kapan saja dia datangi kala dia butuhkan ? hingga seenaknya dia datang dan pergi, hingga sesukanya menghilang dan kembali. Cukup sekali, gue nggak mau untuk yang kedua kali.

“Ra ... tunggu ra ! please kasih gue penjelasan, apakah begitu sulit untuk memaafkan, begitu sulitkah untuk membuka hatimu kembali. Gue tahu Ra, di hati elo hanya ada gue. Dalam setiap impian elo, ada gue disana. So please ... jangan bohongi dirimu sendiri.” Siang itu, dikampus kembali gue denger teriakan itu. Tetap saja, gue ambil langkah seribu buat menghindarinya
“Ra ... !” Andre menghela tanganku. Memaksaku untuk berhenti dan bicara dengannya.
“Please Re, elo yang musti ngertiin gue. Sekali Re, Cuma sekali gue berikan hati ini ke elo. Dan elo menggabaikannya, elo malah pergi tanpa kabar. Elo nggak tahu ?? kepergian elo membawa seluruh hati gue bersama elo. Dan sekarang ? elo datang dan meminta kembali hati yang tak lagi utuh ini ? elo kembali dan menuntut seluruh impian ini, gue hias dengan nama elo kembali?” gue tertunduk, rasanya tak kuasa gue didera lara ini. Rasa sakit itu kembali tertoreh dihati gue. Membuat retakan itu jatuh satu persatu, membuat hati ini terasa perih dan pilu, kembali berdarah, memerah dan menganga kembali.
“Bukannya elo yang egois, bukannya elo yang nggak berperasaan. Koreksi diri elo sendiri Re. Nggak ada lagi yang bisa gue tawarkan ke elo, nggak ada lagi .... walau itu hanya sekedar janji palsu sekalipun. Nggak ada Re, semua sudah pergi bersama kepergian elo dulu. Please, jangan elo tawarkan lagi hati elo ke gue. Jangan Re, karena gue sudah nggak mau. Nggak mau dengan semua impian semu itu. Please ........please, dengar pinta ini. Pergilah, pergilah dari hidup gue, pergilah dari semua harapan dan impian gue. Please, biarkan gue jalan dalam jalan gue sendiri, biarkan gue rangkai setiap mimpi gue sendiri tanpa ada nama elo, tanpa banyangan elo. Please ....!!!!" air mata ini tumpah berderai, jatuh dan luruh .... gue raih jemarinya, menatapnya dengan permohonan. Mencoba memberi dia pengertian, bahwa semua sudah berlalu. Sekali ayunan langkah ini menjauh pergi, tak kan pernah ada jalan yang mampu membawa hati gue kembali. Andre tertunduk lesu, bisu dan kelu. Disudut mata itu gue lihat ada air mata yang mengenangi. Gue nggak tahu apa yang dia rasakan, dan gue memang sudah nggak mau tahu. Pergilah kenangan, bawa semua pilu ku bersamamu. Pergilah, semoga disana kau temukan labuhan hatimu yang baru, yang benar – benar tercipta untukmu. Biarlah cinta ini akan menjadi cinta semata, hanya menjadi kata dalam asa selamanya ....

“Ra .... Fira ? hello ... mana nie suara burung merpatiku !” Gue tersentak kaget. Mendengar siulan dari Mbak Shinta si monster cantik itu.
“Hai babe, ada meeting ! cepetan, weak up girl ! helloooo .... !!!”
“Sorry mbak !”
“Loh ...lohh.... apaan ini, ada apa Ra ? elo sakit ?” Mbak Shinta meraih tangan gue, menatap dengan tatapan penuh tanda tanya ke arah gue.
“Oke, ayoo ... ikut gue. Elo musti cerita sekarang !” dengan setengah memaksa, mbak Shinta menarik tanganku, membawaku ke kantin. Duduk di sudut ruangan, menatapku penuh pengertian. Mbak Shinta masih terdiam, dia hanya mengaduk – aduk jus Jeruk di depannya.
“Ehmmm dah enakkan ? mo cerita ?” Gue tahan setiap kepedihan ini, berusaha gue tekan sedalam mungkin. Gue tertunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang sudah mengenangi pelupuk mata agar jangan sampai berderai kembali. Akhirnya walau dengan sedikit tersendat, gue berhasil juga bercerita padanya. Entahlah ... walau gue menyebutnya monster cantik, tapi dia benar – benar baik terhadap gue. Dengannya gue bisa cerita kan segala masalah dan kegelisahan hati gue. Dia menjadi teman curhat dan bos yang baik, walau kadang cerewetnya aduhhhh .... minta ampunnn dech.
“Perasaan elo ke dia ?” Gue menggeleng pelan.
“Masih cinta ?” Gue terdiam, tak ada yang bisa gue katakan. Tak bisa gue bohongi diri sendiri.
“Gue nggak tahu. Hanya saja, setiap malam datang, gue selalu bertanya mampukah malam ini gue lewati tanpa bermimpi tentangnya. Mampukah kala gue buka mata dipagi hari bisa gue lewati tanpa melihat bayangannya disana, di cermin itu kala gue menatap bayangan gue sendiri disana. Karena sangat gue sadari, gue nggak bisa mbak ? nggak bisa .... dimanapun selalu ada dia.”
“Kalo githu, ayoo... kejar dia, raih dia kembali Ra !!” gue menggeleng pelan.
“Nggak mbak, gue pengen dia pergi dan tak kembali. Sekali saja, cukup sekali mbak !”
“Hanya saja, Fira butuh waktu untuk kembali melupakannya. Hanya waktu .... !” Mbak Shinta memelukku, memberiku dukungan untuk semua keputusanku.
Maaf Re, walau gue tahu, sulit untuk melupakanmu .... tapi gue harus mencoba. Jika esok elo telah lelah dengan semua petualangan elo, berlabuhlah hanya pada satu hati. Dan jika memang kita ditakdirkan bersama, cinta itu kan selamanya menjaga kita. Suatu saat kita kan pasti bersama, walau sebesar apapun halangan dan rintangan menghalangi, walau sekeras apapun usaha gue tuk melupakan elo. Jauh di dasar hati gue, nama elo tak kan pernah terganti selamanya .....

Rabu, 10 Maret 2010

Jangan Panggil Aku "Byla"

Bagian Pertama


Siang … tapi tak seperti layaknya siang hari, awan hitam itu berarak – arakan menyelimuti kota. Suasana semakin terasa mencekam, angin berdesir lirih membawa rintik hujan yang turun perlahan. Ku masukan semua berkas skripsi ke dalam Map plastik yang ku bawa. Hari ini aku mengajukan bab 2 ke dosen pembimbingku, ku tatap sekilas map itu, dengan jelas aku bisa melihat tiap coretan dan tanda tanya besar yang tergambar di atas kertas putih itu.

“Anda tahu yang dimaksud dengan Hipotesis ??” Aku terdiam, percuma rasanya jika aku memberikan jawaban. Karena jawabanku akan tetap salah menurutnya. Aku hanya mampu diam saat beliau membolak balikan setiap lembaran kertas itu.

“Skripsi apa ini, bagaimana mungkin anda mampu menyelesaikan skripsi jika anda tidak memahami cara penulisan dan perumusan masalahnya ???” ku lihat jemari itu mencoret setiap kata yang telah tersusun rapi itu. Dibalik di coret, dibalik lagi dan dicoret lagi … dyuhhh begitu banyakkah kesalahan yang telah aku lakukan ???

“Dengar … !!” ku lihat Bu Rani mengatur nafasnya, meredam setiap emosi yang ku rasa hampir pecah itu.

“Perumusan Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang anda teliti dan kebenarannya perlu diuji secara empiris …” masih terngiang ditelingaku semua ucapan Bu Rani. Pusing seketika menerjang otakku, entahlah perjuangan ini akankah mampu kuteruskan. Satu tetes air hujan menyadarkanku dari lamunan. Dengan tergesa ku masukkan map itu ke dalam tas, dan dengan setengah berlari aku menuju halte di depan kampus. Rintik hujan itu tak lagi selembut awalnya, tetes airnya semakin deras dan cukup untuk membuatku basah kuyup karenanya. Namun … tiba tiba aku merasa aman, terlindung dari hujan dan bersamaan dengan itu …

“Hai cewek … pulang bareng yuuk !!” aku mendengar suara itu, suara yang tanpa kuinginkan selalu menghantuiku.

“Hai juga … “ Jawabku perlahan. Ku hentikan langkahku, berdiri dibawah payung berdua diantara derasnya hujan yang menguyur. Jeans ku sudah basah sampai batas lutut. Rambutku tergerai, berkibar tertiup angin hingga membuatku kepayahan untuk merapikannya dan … dingin terasa sampai ke tulang.

“Hujan non … mendingan aku antar pulang dech !!!”

“Makasih … pi aku bisa pulang sendiri koq. » Aku kembali melangkah namun terhenti ketika aku merasa tangaku tertahan.

"Please ... sampai kapan sich kamu menghindari aku ? emang segithu besarnya kesalahanku hingga membuat kamu nggak bisa maafin aku ?” Aku diam ... menatap tiap tetes air hujan yang turun dari atas payung, jatuh dan pecah tepat dibawah kakiku. Kedua tanganku memeluk erat tas yang kubawa. Seakan ingin melindungi setiap isinya dari curahan hujan, atau ... itu adalah benteng pertahananku terhadap cowok didepanku ? entahlah yang ku tahu aku tak ingin dia terlalu dekat dengaku.

"Byla ... aku tak pernah bicara apapun tentang kamu dengan mereka, tidak Byl ... tidak pernah. Bahkan aku baru tahu hal itu dari mereka ... !!! " Aku berlari ... tak lagi kupedulikan teriakan Raka di belakangku. Ku biarkan air hujan itu membasahi seluruh tubuhku. Bahkan Tas yang ku bawa sudah terasa lembab dalam pelukanku. Tak lagi ku perdulikan bagaimana nasib skripsiku. Aku tak mau tahu …

Air mata … entahlah sejak kapan aku melupakan keberadaan air mata ini. Tiba – tiba saja air itu tumpah dan membasahi pipiku. Air mata yang sudah lama tak lagi mampu mengalir dari dari kelopak mataku, air mata yang kurasa sudah habis untukmu … di pusara merah itu.

Senja itu masih terasa segar dalam ingatanku, malam minggu tepat di ulang tahunku. Aku dan dia duduk di atas rumput di tengah alun – laun selatan, suasana saat itu terasa begitu meriah, banyak anak – anak kecil yang berlarian, muda mudi yang duduk berpasangan di trotoar yang mengitari alun – alun. Ku lihat kerlap kerlip lampu – lampu kecil dari setiap penjual mainan yang sedang laris manis di kerubungi para pembeli. Tua muda remaja bahkan anak – anak sibuk melemparkan mainan yang terbuat dari kertas yang dilengkapi kerlip lampu warna warni itu ke atas. Mereka melemparkannya ke atas dan benda kecil itu akan melayang, berputar putar membentuk siluet cahaya yang indah di atas udara, sebelum benda itu terjatuh ke tanah. Disana … ditengah – tengah alun – alun diantara kedua beringin kembar banyak orang yang mencoba permainan menutup kedua mata dengan kain dan berjalan melewati jalan diantara kedua Beringin Kembar itu. Alun-alun selatan bentuknya hanyalah sebuah lapangan kecil, berada di belakang Kraton, dan sebelah timur Tamansari. Dulunya merupakan tempat latihan baris-berbaris bagi prajurit Kraton serta sebagai tempat sowan abdi dalem beserta prajurit pada malam-malam tertentu. Sekarang, karena sebagai ruang publik, masyarakat bebas menggunakannya untuk sarana hiburan atau rekreasi. Ada beberapa penyedia jasa mainan anak-anak, kereta mini, andong (kereta beroda 4 yang ditarik kuda), motor mini, becak mini, sepeda, hingga deretan penjual jagung bakar serta makanan dan minuman lainnya.

"Ayoo .. !" Ajak Bian sambil meraih tanganku, menariknya agar berdiri. Tanpa menunggu persetujuanku dia berjalan sambil mengandeng tanganku agar mengikutinya.

"Bentar nie ... mo kemana sie ??" Bian tak mengubris pertanyaanku, dia berjalan ke arah bapak – bapak yang menyediakan jasa menyewakan penutup mata seharga Rp. 3.000. Dia berhenti, berbicara sebentar dan tangannya menerima uluran kain penutup mata itu.

"Ogahh ... aku nggak mau Bee. Jangan bilang ya ... kalo kamu nyuruh aku mencoba permainan itu !" Bian tersenyum tertahan. Aku berlari menjauhinya ... bukannya mengejarku dia bahkan berdiri tepat di tengah, dan jika ku tarik garis lurus maka posisi Bian tepat ditengah diantara Sasono Hinggil Dwi Abad dan Plengkung Gading. Perlahan aku mendekat, melihatnya mengikatkan kain itu ke mata, diam sejenak dan ... perlahan dia mulai berjalan … aku berlari mengikutinya. Meminta permisi pada setiap orang yang dilalui jalanya. Satu persatu orang – orang itu menyingkir memberi jalan pada Bian. Aku terpekik ... ketika melihatnya berjalan lurus ke tengah – tengah diantara kedua pohon beringin itu. Tepat di antara keduanya, Bian berhenti dan membuka matanya. Ku lihat dia tertawa menyambutku ... aku berlari ke arahnya dan memeluk lengannya.

“Ehmmm … hebat … hebat, oke … oke … aku percaya koq kalo kamu emang bener2 orang baek en luruss !” Bian tertawa …

“Apa hubungannya ? jangan bilang kamu percaya ma hal – hal seperti itu ya …”

"Napa enggak ?" jawabku merajuk

"Oke ... kalo githu tuan putri juga musti nyobain juga nie!" Bian berjalan kembali ke arah tempat dia memulai permainan itu dan aku mengikutinya. Ketika kain hitam itu menutup kedua mataku, Bian berbisik …

“Ucapkan keinginanmu … jangan ragu, melangkahlah dengan keyakinan dihatimu” Aku mengangguk, menata hati dan fikiran dan ku baca Bismillah sebelum aku mulai melangkah … apa yang kurasa ??? ketika mulai melangkah, yakin aku tak pernah berbelok dan aku merasa jalanku lurus menuju ke tengah tengah kedua beringin itu. Jalan yang kulalui … benar benar terasa begitu gelap, ada sebersit rasa takut. Semakin melangkah aku semakin merasa dilingkupi kegelapan, suara yang terdengar hanya suara bisik bisik dikanan kiriku. Padahal seingatku suasana alun – alun begitu ramai. Tapi … dengan mata tertutup ini, aku seperti sendirian ditengah alam yang tidak aku kenal. Hingga pada akhirnya aku mendengar suara Bian menyembut namaku …

“Byl … buka tutup matamu !!!” Aku berhenti dan dengan perlahan aku membuka penutup mata itu dan … whatttt … aku kaget setengah mati, bukannya berada di tengah tengah diantara kedua pohon beringin itu, tapi aku malah berada disamping Pohon beringin wanita. Menurut cerita orang Pohon Beringin yang besar dan tinggi itu Pohon Beringin Laki – laki tapi yang lebih sedikit kecil atau yang agak kecil itu pohon Beringin Wanita. Jadi yang disebelah kiri itu pohon Beringin laki laki dan yang kanan adalah pohon Beringin Wanita. Aku tertawa malu melihat hasil permainanku, dengan tersipu aku menyembunyikan wajahku dalam lekukan bahunya.

“Yeee … napa musti malu ? kita coba lagi yuukk … !!!” ajaknya. Aku menggeleng pelan, ku serahkan kain penutup mata itu ke arahnya. Bian terdiam, menatapku dengan sedikit heran karena tiba – tiba saja aku berubah menjadi pendiam.

“Menurut cerita dan kepercayaan orang, hanya orang – orang yang memiliki hati lurus yang bisa melewati jalan di tengah kedua beringin itu, dan itu berarti mereka bisa mencapai setiap keinginan dan mimpi mereka. Dan aku nggak bisa melewatinya, itu berarti impian dan keinginanku nggak mungkin tercapai …”

“Huuusssttt …. !!!” Bian menempelkan jari telunjuknya ke bibirku …

“Itu kata mereka, semua kembali pada usaha kita Bylla sayang … dan udah dech, nggak usah diambil hati en terlalu dipikirin oke. Tyuhhh … jadi makin cantik dech kamu kalo cemberut … hahahaha !!!” Bian tertawa meledekku, aku semakin manyun … kau tak tahu keinginan apa yang kuucapkan sebelum melangkah tadi Bee .. bisik hatiku.

“Byl … naik sepeda aja yuukk ... !!! kayak na asyik tyuhhh !!” Bian merangkul pudakku, mengajakku ke arah penyewaan sepeda kayuh. Sepeda itu unik, jadi kalau sepeda normal itu satu stang dengan satu pasang pedal, kalau sepeda ini tidak seperti itu, tapi ini satu sepeda ada yang 2 stang dan 2 pasang pedal untuk 2 penumpang dan ada juga yang 3 stang dan 3 pasang pedal untuk 3 penumpang. Bian menyewa satu sepeda dengan 2 stang dan 2 pasang pedal. Bian naik di depan, dan aku bagian belakang. Kami mulai mengayuh bersama, sesekali kami berhenti saling menggoda dan tertawa kemudian kami mulai mengayuh kembali mengelilingi alun – alun selatan.

Cape’ juga nie tuan putri ... » aku tertawa melihat wajah imoet itu terlihat kepayahan.

“Kamu sie … bukannya ikut ngayuh tapi … enak – enakan Cuma ngikutin doang ! dah gtw … mending kalo kamu kecil lha … ini … !!!” reflek aku mencubit pinggang Bian, merenggut dengan mimik marah …

“Ini apa coba ? gendut maksud kamu ? reseeehh ya ... !!! » Bian lari menjauhi jemariku, yang siap menerjangnya dengan jurus cubitan maut. Kami berlarian di tengah alun – laun, saling kejar – kejaran, tertawa dan rasanya alun – alun malam itu adalah milik kami berdua. Banyak pasang mata yang melihat kami, tertawa melihat tingkah laku kami yang seperti kanak – kanak. Dan Bian tetap tak mampu terhapuskan dari memoriku terlebih ... malam itu setelah mengantarku pulang ...

"Happy birthday sweety, smoga segala impianmu dapat terengkuh olehmu" Bian memberiku sebuah kado kecil yang terbungkus kertas kado warna pink. Menatapku begitu lama ... dan membuatku terpaku. Dia membingkai wajahku dengan kedua tangannya menatap lekat mataku. Aku melihat begitu banyak pelangi yang melintasi binar mata indah itu, wajahnya begitu indah dalam ingatanku. Malam itu untuk pertama kalinya sejak kami jadian dia menciumku.

Namun malam itu tak berakhir indah seperti harapanku, belum lagi aku membuka kado darinya. Aku mendapat kabar bahwa Bian kecelakaan, Kiki menelponku dengan menangis terisak – isak. Aku tak bisa melakukan hal apapun, seluruh tubuhku terasa lemas tanpa tenaga. Tak ada lagi yang ada di pikiranku selain Bian ... dengan tergesa aku naik Taxi dan meluncur ke Rumah Sakit Panti Rapih, aku berharap Bian baik – baik saja. Aku berharap aku masih bisa melihat senyum diwajahnya. Malam itu suasana Rumah Sakit terasa begitu lenggang, maklum malam sudah begitu larut, ku lihat jam dipergelangan tanganku, jam 22 :30 menit. Berdasarkan informasi dari resepsionis aku mencari Bian di UGD, di sana yang kulihat adalah Kiki, Radith, Boy, Silva dan beberapa teman dekat Bian. Kiki mendekatiku, memelukku sambil menangis. Kemudia Silva pun memelukku sambil menangis. Boy dan Radith menepuk pundakku seakan ingin memberiku kekuatan.

"Tenang Byl ... "

"Mana Bian ? Boy ... Dith ... Bian nggak pa pa kan ? jawabb !!!" tanyaku sambil menatap wajah kusut mereka, tak ada jawaban yang kuterima hanyalah tatapan kepedihan di mata mereka. Entahlah ... aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada Bian, dengan hati yang diliputi kecemasan dan tanda tanya aku berlari menghambur masuk ke ruang UGD. Namun Radith mencegahku , melarangku masuk ke dalam.

“Tenang Byll … !!!”

“Aku mau masuk Dith, aku harus tahu keadaan Bian …”

“Bian tidak ada di dalam … dia sudah dipindahkan”

“Maksud kamu ? truss kenapa kalian disini ? kenapa kalian tidak menemaninya ? …. Kenapa ???” Mereka semua terdiam …

“ Kami sedang menunggu kedatangan orang tuanya …” Aku bingung … kutatap wajah wajah sahabatku. Tak ada yang mampu menatap wajahku, mereka hanya mampu tertunduk … Kiki mendekatiku, memelukku dan mengajakku untuk duduk …

“Byll … kamu yang tabah ya … kamu harus kuat Byll … kamu harus bisa menerima kenyataan ini”

Ada apa ini ??? ngomong aja dech Ki, gimana keadaan Bian ???” Kiki kembali memelukku dan berbisik …

“Bian sudah pergi Byll, dia meninggal sebelum dokter sempat menolongnya …!”

“Apaaaa ???? Bian … Bian … Biaaaaaaannnnnnn !!!” Aku menangis, berteriak, meronta dalam pelukan Kiki … Tidakk, aku tidak bisa kehilanganmu, aku nggak mau kau pergi meninggalkanku … jangan Bee … Jangan … baru satu jam yang lalu kau yakinkan aku bahwa impianku dapat terwujud, kini kau tak boleh memupus dan menghancur leburkan impian itu. Bee … aku nggak mau kehilanganmu, Tuhannnnn … Ya Allah tolong aku, bawa kembali belahan jiwaku. Aku menangis, menjerit … tak kuasa menahan hati yang terasa perih tiada terkira, akankah luka ini bisa menutup kembali, apa mungkin waktu mampu menyembuhkannya. Namun apa daya, kehilangannya tanpa mampu tuk ku cegah, walau aku menangis darah sekalipun kau tak akan kembali.

Bee ...
Tersebut segala hal hanya satu yang kutahu

Tersadar segala rasa hanya satu yang terasa

Terikat segala asa hanya satu yang terbiarkan tetap ada

Memenuhi seluruh ruang di impianku

Ketika mimpi terukir di dinding hati

Melambungkan asa ...

Menerbangkan rasa ...

Merasuk mengikuti setiap aliran darah hingga ke nadi

Bergetar memenuhi setiap sudut relung jiwa ini

Menjadi satu jiwa yang lain selain jiwaku

Menjadi satu nafas yang lain dalam hidupku

Dan menjadi udara bagi hidup dan matiku


Bee ...

Terbanglah jauh ...

Kepakkan sayapmu mengapai awan biru

Hinggaplah dimanapun kau ingin singgah

Sandarkan tiap impian kala kau lelah

Disana ...

Diantara keindahan bunga nirwana

Diantara merah, kuning, biru sang pemuja


Di tiap persinggahanmu ...

Di tiap angan yang menghampirimu

Di tiap kelelahan yang melingkupimu

Hanya satu pintaku ...

Biarkan pelangi itu hanya untukku ...

Kepergiannya tak hanya menyakitiku, tak hanya melukai batinku namun kepergiannya menorehkan kebencian dari orang tuanya padaku. Mereka menganggap bahwa akulah biang keladi dari semua itu. Aku yang menyebabkan Bian kecelakaan dan meninggal … akulah semua sebab yang membuat putra satu – satunya, kesayangan mereka meninggal dunia. Bee … aku tahu rasa sakit dan kehilangan yang mereka rasakan, karena akupun merasakan hal yang sama. Aku yang hingga kini tak mampu melupakanmu, walaupun sudah 2 tahun yang lalu kau pergi meninggalkanku. Aku masih bisa merasakan hangatnya pelukmu, aku masih bisa merasakan wangi parfummu, aku masih saja merasa kau ada disampingku hingga kini. Andai kau tahu Bee … malam itu ketika kita melakukan permainan masangin, hanya satu pinta yang terucap dari hatiku “Aku hanya ingin selalu bersamamu, selalu …” dan nyatanya impian dan keinginan ku itu tak kan bisa teraih olehku, karena saat itu juga kau pergi meninggalkanku. Bee … aku tak akan mungkin bisa menggantikanmu dengan siapapun sosok yang datang di hari – hariku, kini … esok ataupun nanti …

“Non ... mau cari buku apa ? ngelamun aja dari tadi ? » Aku terkejut, tersadar dari lamunan panjangku. Pak Toga pemilik kios buku di area Shopping center menyapaku, aku tersipu malu. Ku hapus setitik air mata yang mulai menggenangi mataku, ku ulas senyum semanis mungkin.

“Echh … Pak Toga, enggak pak … cuman liat liat aja koq. Sapa tahu ada buku yang sesuai isi kantong, hehehehe !” selorohku. Aku sering membeli buku di kiosnya, entah buku baru ataupun buku – buku bekas yang aku rasa sesuai dengan nilai kantongku. Ehmmm … siang ini lumayan terik, ku lihat begitu banyak orang yang berdesak – desakan menyusuri tiap lorong kios hanya untuk mencari buku yang diinginkannya. Shopping adalah tempat penjualan buku bekas dan baru dengan harga murah dan jauh dibawah harga toko – toko buku seperti Gramedia ataupun toko – toko buku lainnya. Shopping terletak di depan kantor pos Yogya, dan sekarang di sana telah di bangun area rekreasi, bermain dan belajar “Taman Pintar” namanya. Di hari – hari libur banyak pengunjung yang datang, entah dari warga Yogya sendiri atau wisatawam dari luar daerah. Aku duduk di kios Pak Toga, ku seka peluh yang bercucuran membasahi tubuhku. Pak Toga sibuk menata buku, memilah – milah dan membedakannya berdasarkan kriteria dan jenis buku.

“Non, bapak mau cari kopi dulu … bisa minta tolong jagain kios bapak ?"

"Siappp komandan, pasti Byla jagain pak ... sipp dijamin nggak bakalan ada yang ilang " aku mengambil posisi siap di depan Pak Toga, tak lupa tanganku pun berlagak seperti seorang prajurit yang siap menerima perintah dari atasannya. Pak Toga tertawa ... wajah keriput itu masih terlihat begitu penuh wibawa, tubuhnya masih terlihat tegap tak seperti orang tua yang seusianya. Maklum dia adalah mantan Prajurit tentara veteran ... di usianya yang sudah semakin lanjut, dia tetap saja tak mau berpangku tangan.

"Buku ini berapa mbak ?? " Ku lihat seorang cowok memperlihatkan sebuah buku yang berjudul "Membangun server sederhana dengan Mikrotik OS"

"Bentar ya mas ... " jawabku, sambil sibuk mencari daftar harga buku yang biasanya disimpan Pak Toga dibawah rak buku.

"ehmmm ... itu harganya Rp. 47.500,00 diskon 5 % jadi harga net nya Rp. 45.000,00” Jawabku sambil menjawab pertanyaan para pengunjung kios yang menanyakan beberapa judul buku yang diinginkannya. Dyuhhh … Pak Toga pergi malah kios kebajiran pembeli. Ku seka peluhku, tersenyum setiap ada pembeli yang datang dan menyilahkan mereka mencari buku yang diinginkannya ataupun sekedar melihat – lihat.

"Nggak boleh kurang mbak, uangku tinggal Rp. 40.000,00 nich !" Jawabnya menawar harga buku itu. Aku mendongak, menatapa wajah di depanku dan … aku tersentak kaget hingga tanpa sadar aku mundur beberapa langkah. Dia … tidak, tidak mungkin … Bian sudah meninggal. Jantungku berdegub kencang, keringat dingin seketika mengalir dari tengkuk, wajah hingga seluruh tubuhku.

Napa mbak ??? kayak liat setan aja, emang wajahku mirip setan ya ??? tapi cakep kan ???” seloroh cowok itu. Ku coba mengatur nafas, meredam emosi yang seketika mencengkeramku. Aku butuh 3 menit untuk bisa berlaku normal kembali. Ku tekan degub jantungku, ku redam seluruh getar yang tak ku tahu dari mana datangnya.

“Maaf mas … saya cuma kaget …”

“Kaget … ? kaget karena melihat saya ?”

“Enggak … Cuma kaget saja. Gimana buku nya, jadi nggak ? itu sudah harganya … jadi maaf !!!” Jawabku sesopan mungkin.

“Ya udah … saya beli dengan harga Rp. 45.000,00, tapi … dengan satu syarat “

“Syarat ???” tanyaku heran

“Boleh kita kenalan ? namaku Raka …” Dia mengulurkan tangan menanti sambutan dariku. Namun aku hanya diam terpaku tak tahu harus bagaimana. ….

“Helloooo … !!! hei nona … !!!” teriaknya sambil menjentikan jemarinya di depanku

“Waduuh cantik cantik koq suka bengong sie ???” aku tersadar … dengan sedikit jengah aku membalas uluran tangannya.

“Byla …” Jawabku datar. Dia tersenyum, ada kerlingan jenaka di matanya. Duch ... aku tak mau terperangkap masa lalu. Walaupun dia bukan sosok dari masa laluku tapi semua yang ada di dirinya seakan membawaku ke masa lalu, masa yang sangat ingin aku lupakan. Untunglah Pak Toga datang, aku menyerahkan kembali urusan kios ke Pak Toga, berpamitan sebentar dan aku melangkah menjauh. Tak ku hiraukan teriakan dari Raka yang memanggilku. Please ... jangan usik aku, mengapa Tuhan Kau hadirkan kembali seraut wajah yang hanya bisa melukaiku, yang hanya bisa memerahkan luka yang tak pernah bisa kering ini. Mengapa ... ??? berapa banyak stock wajah yang Kau ciptakan menyerupainya, apakah ini ujianMu untukku ?? Aku hanya ingin Bian, bukan yang lain. Karena dia bukan Bian ku ... bisikku kelu.

“Cewek … hayooo gie ngelamunin aku ya ???” Aku tersentak kaget. Reflek aku menutup Notebook di depanku. Suasana kantin sudah lenggang … ku lihat kiri kanan namun hanya ada satu dua mahasiswa semester 3 yang sedang ngobrol sambil asyik menikmati cemilan di depannya. Aku mendesah panjang, mencoba menghindari pandangan cowok di depanku, Raka … ya selalu dia yang hadir di setiap kesendirianku. Raka … mahasiswa pindahan dari Jakarta yang berkenalan denganku di kios Pak Toga, yang ternyata satu kampus denganku, dan ternyata mahasiswa semester 5 Fakultas Teknologi Informatika pada saat itu. Satu tahun aku menghindarinya, menolak setiap jalinan yang dia sodorkan. Menghindarinya bagai penyakit menular bagiku, namun apa mau dikata … dia selalu ada tanpa ku minta.

“Hai … boleh aku duduk ?” tanyanya, aku hanya mengangguk pelan.

“Apa kabar Byl ? aku dengar kamu sedang ngerjain skripsi sekarang …” Aku menatapnya, tersenyum simpul dan kembali mengangguk kecil.

“Kamu ?”

“Waahhh kalo aku kalah jauh ma kamu. Baru ngajuin proposal nie, susah juga. Semoga proposal yang ke dua ini ACC dech. Maless kalo bolak balik ditolak ...”jawabnya enteng. Raka nyengir melihat gelas dan piring yang masih penuh di depanku.

“oouww … lagi bad mood ? wahh sayang tyuhh Byll. Mubazir taux … sini, sini aku aja yang ngabisin !!! » tanpa permisi Raka minum Juice di depanku. Aku terpaku melihatnya ... kulihat dengan sekali teguk lenyap tanpa sisa. Dan sedetik kemudian dia menutup mulutnya dan berlari ke arah toilet. Aku tertawa ... rasain tyuhh ... emang enak minum Juice wortel ??? Aku bersiap siap pergi, ku masukkan Notebook ke dalam tasku, menyelesaikan pembayaran dan .... tiba – tiba Raka datang dengan wajah merah, dia benar benar terlihat begitu tersiksa.

"Ka ... kamu nggak pa pa ??" Raka duduk dan aku mengikutinya. Menatapnya dengan perasaan bersalah.

"Dyuhhh ... ini emang kesalahanku, kamu juga sie Byl nggak bilang kalo itu Juice wortel. Emang kamu suka dengan Juice seperti itu ???” Aku berusaha menahan tawa, ku tahan perutku sebisa mungkin. Namun tetap saja tawaku pecah di depannya, Raka tertegun menatapku …

“Abisnya kamu juga sie, permisi dulu keq, nanya dulu keq … nggak asal embat” kata ku diantara derai tawaku.

“Kamu cantik Byl … tawamu, senyummu seketika membuat wajahmu memerah semu. Kamu tahu … kamu benar benar cantik saat tertawa. Mengapa kamu sembunyikan ???” Aku tersentak, seketika aku terdiam. Menatap wajah di depanku yang sedang menatapku.

“Aku …”

“Karena Bian ??? begitu hebatnya dia hingga bisa menghapus tawamu selama ini. Begitu berartikah dia bagimu Byl ? hingga kamu menjauhiku, menghindariku dan menutup semua jalan bagiku.” Aku terdiam … diam tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun. Aku seperti melihat sosokmu kembali Bee, diwajah itu, disenyum itu … betapa aku ingin berlaku adil terhadapnya. Menatapnya dan menerimanya bukan sebagai dirimu, tapi menerima dia seuntuhnya sebagai Raka.

“Kepergiannya bukan kesalahanmu Byl, itu sudah takdir dia. Kamu tahu takdir yang tidak dapat dirubah adalah hidup dan mati, itu sudah hak paten milik Nya. Kita tidak bisa menghindari dan menolaknya.” Aku menatapnya, tahu apa dia tentang aku ? dia hanya tahu dari cerita orang. Aku berdiri, tersenyum dan ...

"Terima kasih buat ceramahnya ... " kemudian aku berlalu, meninggalkannya tanpa menoleh lagi. Jangan ajari aku untuk menerima kenyataan, jangan ceramahi aku tentang takdir. Segala cara telah ku coba melupakannya, semua cara telah ku lakukan untuk menghapusnya dan kamu ... hanya orang asing yang berusaha hadir di hidupku, yang belum tahu apapun tentang aku. Mengajariku cara tertawa dan tersenyum, cara melupakan kepedihan, cara yang selama ini telah aku lakukan untuk menyelamatkan hati dan hidupku. Tapi tetap saja aku tak mampu ...


Bersambung ...